Putri Thukul Meminta Prabowo Bercerita Jujur Mengenai Penculikan Aktivis 1997-1998

Putri  Thukul Meminta Prabowo Bercerita Jujur Mengenai Penculikan Aktivis 1997-1998

GOSIP POLITIK – Putri Widji Thukul, Fitri Nganthi Wani meminta Mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto bercerita jujur mengenai kasus penculikan aktivis masa 1997-1998.

“Mungkin banyak pihak yang membela dia, bahwa dia tak melakukan. Tapi berani dong bicara, dia siap diadili dan siap bertanggung jawab,” kata Fitri di Restoran Sari Kuring, Jakarta, Rabu (7/8/2014).

Fitri menyarankan untuk menjadi calon presiden, Prabowo sebaiknya menyelesaikan permasalahannya terlebih dahulu.

“Kalau punya masalah belum selesai, mending selesaikan masalah dulu yang belum selesai sebelum kamu menyatakan untuk siap menghandle masalah berikutnya dan masalah yang lain,” tuturnya.

Perempuan berusia 25 tahun itu meyakini ayahnya masih hidup. Hal itupun yang membuatnya terus mencari keadilan untuk mengetahui kondisi Widji Thukulpascahilangnya penyair itu menjelang jatuhnya rezim Orde Baru.

“Kalau kami, selama mayat ayah tak ada, selama belum ada pernyataan ini loh yang bunuh Wiji Thukul, maka kami masih meyakini bapak masih hidup,” imbuhnya.

Ia mengatakan Widji Thukul hanyalah menulis peristiwa yang terjadi sehari-hari ditengah masyarakat. Hal itu pun dituangkan melalui media puisi.

“Bapak saya itu cuma menulis buku harian, berupa puisi, atas apa yang terjadi di sekitarnya. Betapa konyolnya cuma begitu, bapak saya dihilangkan,” katanya.

Diketahui, pada Oktober 1989, Widji Thukul menikah dengan istrinya Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh. Fitri lahir pada 22 Desember 1993, lalu anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah.

Pada 1992, Wiji ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis yang hilang.

Istri Thukul, Sipon lalu melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada tahun 2000.

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Johnson Simanjuntak
Share This