Wah Parah.. Guru Ini Tawarkan Nilai Ujian Tukar Dengan Seks

Wah Parah.. Guru Ini Tawarkan Nilai Ujian Tukar Dengan Seks

GOSIP KRIMINAL – Sekolah merupakan tempat terbanyak kedua terjadinya pelecehan seksual setelah keluarga. Oknum guru melihat jeli kelemahan siswi yang takut menjelang ujian semester sampati ujian akhir. Dengan modus bisa membantu nilai ujian agar bagus, kelulusan sampai pemberian sejumlah uang, pelajar lugu akhirnya masuk perangkap.

Ujung-ujungnya, siswi diminta untuk melayani seks sang guru, dan menyerahkan kehormatannya. Beberapa siswi telah menjadi korban oknum guru tersebut. Mirisnya lagi korban pelecehan seksual ini tidak hanya terjadi pada siswa SMA namun juga SMP bahkan SD.

Tribun Sumsel menjumpai seorang siswi kelas XII SMA di Palembang. Sebut saja namanya Melati. Dia berjalan pelan mengiringi ibu dan kakak perempuannya naik ke lantai II Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumsel beberapa hari lalu.

Remaja berusia 16 tahun yang memakai jilbab dan kaus lengan panjang bewarna coklat hanya sesekali berbicara.Ekspresi wajahnya dingin, lebih banyak menunduk sambil mendengarkan orang-orang di sekitarnya berbicara.

Ia trauma dan kini mendapat pengawasan ketat dari orangtuanya setelah beberapa waktu lalu diketahui telah berhubungan seksual oleh guru sekolahnya di sebuah hotel di Palembang.

Melati, pada pertengahan tahun lalu, telah masuk perangkap guru sekolahnya. Mendapat janji kelulusan dan uang Rp 500 ribu, ia mau saja menerima ajakan gurunya untuk berhubungan seksual. “Tidak ada intimidasi, hanya dijanjikan kelulusan dan nilai. Tapi, ada temannya yang pernah mengaku dapat uang Rp 500 ribu,” kata ibu Melati.

Melati yang mendengar penjelasan ibunya tidak banyak komentar. “Iya,” katanya singkat membenarkan penjelasan ibunya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa pihak, Melati bukan satu-satunya korban bujuk rayu guru itu. Sebelumnya, sang guru kepada Melati mengakui teman dan kakak kelas di sekolah itu juga telah menyerahkan kehormatannya.

Modus guru itu tak berbeda jauh, memberikan uang Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta serta mengiming-imingi nilai dan kelulusan. Sebelum “memangsa buruannya”, guru itu melakukan pendekatan intensif terhadap korban. Mulai dari mencari nomor telepon korban, mengirim SMS, mengajak pertemuan, hingga masuk pada tujuan utama mengajak berhubungan seksual.

Meski diduga banyak korban lain, hanya Melati yang mau melaporkan masalah itu ke polisi. Proses hukumnya juga sampai sekarang belum berhasil dilimpahkan ke pengadilan karena sudah dua kali kejaksaan mengembalikan pengajuan berkas perkara dari polisi.

Pegawai P2TP2A Sumsel sengaja mengundang Melati dan keluarga datang ke kantor itu untuk mengikuti konseling bersama Syarkoni SPsi MPsi, psikolog dari Rumah Sakit Ernaldi Bahar. Tujuannya untuk mengetahui sebesar apa dampak psikis yang dihadapi Melati dan mencari informasi tambahan untuk melengkapi bukti-bukti menjerat pelaku.

Setelah berbincang sejenak di lantai II kantor itu, psikolog mengajak Melati berbicara di sebuah ruangan lantai I. Sekitar 40 menit kemudian, gantian ibunya yang masuk menemui psikolog di ruangan itu.

Syarkoni, usai berbincang dengan ibu dan anak itu, tak mau memberikan keterangan rinci. Alasannya terkait dengan kode etik profesionalisme untuk tidak memberitahu permasalahan korban ke orang lain. Sedangkan Melati dan keluarganya meninggalkan kantor yang bersebelahan dengan gedung Kementerian Agama Wilayah Sumsel.

Editor: fajar anjungroso
Sumber: Tribun Sumsel
Share This