Cerita Korban Ustaz Guntur Bumi UGB, Sekali Berobat Rp 2.999.000 Tanpa Hasil

Cerita Korban Ustaz Guntur Bumi UGB, Sekali Berobat Rp 2.999.000 Tanpa Hasil

GOSIP KASUS, – Pada Senin (5/5) lalu kepolisian menahan Ustaz Guntur Bumi (UGB), sebelumnya pria tersebut ditetapkan sebagai tersangka kasus penipuan. Makin hari kian banyak korban yang berani mengungkap modus penipuan pria yang kerap tampil bak ustaz tersebut. Aku pun terdorong untuk bercerita pengalaman ibu ku yang berobat di Guntur Bumi.

Pada November akhir tahun lalu, tanpa sepengetahuan ku, ibu berobat ke klinik UGB. Ia berharap penyakit diabetes yang sudah diderita lebih dari lima tahun dapat disembuhkan. Mengendarai motor, ibu berangkat bersama ayah usai Dzuhur. Sekitar pukul 1 siang mereka sudah tiba di klinik UGB di kawasan Pondok Indah.

Disana ibu dan bapak ku diminta menunggu bersama pasien lain di teras. Beberapa anak buah UGB terlihat melakukan pengajian di sisi teras rumah. Saat menunggu giliran, tiba-tiba ada pasien yang berteriak dan meronta-ronta seperti orang kesurupan. Lantas, anak buah UGB dengan laku sigap “menetralisir” orang tersebut.

Setelah lebih dari empat jam menunggu giliran berobat, jelang Maghrib Ibu ku dipanggil ke ruangan UGB. Ia didampingi ayah ku. Di ruangan tersebut, UGB ditemani satu orang anak buah. Ia pun komat-kamit di depan ibu. Sedangkan anak buah UGB memegang kepala ibu dan mengacak-acak rambutnya.

Hitungan detik, anak buah UGB membuka kepalan tangan dan menunjukkan ulat bercampur pasir di telapak tangannya. “Ibu diguna-guna” ujar UGB. Ia pun komat-kamit membacakan doa agar ibu ku sembuh.

Sekali berobat Rp 2,9 Juta

Setelah dibacakan doa oleh UGB, ibu dan ayah ku lantas diminta ke bilik administrasi guna menyelesaikan pembayaran. Ternyata Ibu diharuskan membayar Rp 2.999.000. Ayah terkejut. Pasalnya, pengobatan alternatif biasanya tidak mematok tarif, apalagi biaya tersebut setara dengan gajinya sebulan sebagai buruh. Saat itu ayah ku hanya membawa uang tiga ratus ribu rupiah.

Anak buah UGB pun meminta Ayah ke ATM terdekat untuk mengambil kekurangan pembayaran. “Kami ada kendaraan operasional dan pegawai yang bisa mengantar ke ATM,” ujar anak buah UGB. Ayah ku pun heran, seolah ada kurir yang memang bertugas khusus mengantarkan pasien ke ATM.

Demi kesembuhan ibu, ayah ku rela menguras koceknya. Ia pun mentransfer kekurangan pembayaran via ATM. “Uang ini akan digunakan untuk pengajian nanti malam. Nanti santri-santrinya akan mendoakan ibu agar sembuh,” ujar anak buah UGB.

Keesokan harinya, anak buah UGB menghubungi orangtua ku. Mereka meminta agar Ibu datang kembali ke klinik UGB untuk pengobatan lanjutan. Ayah ku yang menerima telepon langsung tegas menanyakan “berapa lagi biaya yang harus saya bayar?”.

Di ujung telepon, anak buah UGB tidak lugas menjawab pertanyaan. “Tergantung Pak biayanya, Bapak kesini saja dulu, nanti setelah diperiksa baru bisa dihitung berapa biayanya,” dalihnya. Ayah ku pun buru-buru menutup telepon dan tegas mengatakan tidak mau.

Korban Iklan

Setelah kejadian tersebut, ayah bercerita kepada ku. Ibu pun menyesal telah membuang uang tiga juta rupiah hasil kerja keras ayah, tanpa hasil. Oya, saat di klinik UGB ayah bertemu dengan korban lain. Ada seorang korban dari Bekasi yang telah mengeluarkan uang Rp 15 juta tanpa hasil. Bahkan, sejumlah media menulis ada yang tertipu hingga ratusan juta.

Niat ibu ku berobat ke klinik UGB muncul setelah menyaksikan tayangan “ustaz” itu di sebuah stasiun televisi swasta. Sebagai orang awam yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, ibu ku dengan mudah percaya terhadap kedigdayaan pengobatan UGB yang dipamerkan di televisi.

Oleh karena itu, Kompasianer dan seluruh keluarga harap berhati-hati terhadap penipuan berkedok pengobatan alternatif. Selain itu, media massa juga jangan “menjerumuskan” pemirsanya dengan menghadirkan ustaz palsu dan tayangan pengobatan alternatif yang belum terbukti benar khasiatnya. Jangan silap dengan pemasukan yang didapat dari tayangan-tayangan seperti itu.(kutipan/kompasiana)

BACA JUGA:

Share This