Agum Gumelar: Seharusnya Kamu Malu

Agum Gumelar: Seharusnya Kamu Malu

GOSIP POLITIK – Calon Presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto berkali-kali melakukan show of force layaknya dia calon pemenang Pemilu kali ini.

Mulai dari menjadi sosok Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda ketika kampanye akbar Gerindra di Gelora Bung Karno –GBK- sampai pada mengumpulkan para mantan TNI yang bersimpati padanya. Di seluruh pertemuan itu, Prabowo tampak percaya diri karena semua yang hadir mengelu-elukan dan memuji dia. Malah di hotel Bidakara, seorang mantan anak buah Prabowo menangis ketika bertemu dan serta merta memuji tiada henti mantan Danjen Kopassus itu.

Tapi hal itu tidak berlaku bagi seorang Agum Gumelar. Prabowo Subianto diminta Agum untuk lebih sadar diri dalam Pilpres 2014. Pasalnya Prabowo memiliki sejarah hitam, khususnya saat aktif di militer.

“Saya tahu dia. Tahu persis siapa dia karena bekas anak buah saya. Jangankan untuk menjadi presiden, untuk mencalonkan diri saja harusnya dia malu,” kata Jenderal (Purn) TNI Agum Gumelar tentang sosok Prabowo Subianto. Baik Agum dan Prabowo pernah bergabung di Komando Pasukan Khusus –Kopassus-. Agum adalah mantan Komandan Prabowo.

Pernyataan Agum Gumelar ini pastilah memiliki alasan. Bagaimana seorang Prabowo yang banyak dielukan itu, dinilai minus di mata mantan Komandannya. “Berawal kasus 98, sebuah kasus yang terjadi di jajaran Kopassus penculikan beberapa aktivis terjadi. Pada kasus ini, Prabowo lah tersangkanya,” kata Agum. Dunia internasional mengetahui hal itu dan mereka bersikap hati-hati terhadap Prabowo sampai saat ini.Saat itu menurutnya, situasi chaos di Indonesia mengakibatkan kerja sama Indonesia dengan beberapa negara-negara diputus.

“Pimpinan ABRI langsung melakukan penyelidikan kasus yang masuk kategori pelanggaran berat ini. Harusnya kasus ini ditangani Mahkamah Militer karena telah teridentitas. Tapi karena beberapa faktor akhirnya tidak ditangani Mahkamah Militer,” terang Agum, Akmil tahun 1968 itu.

Maka untuk melanjutkan pemeriksaan, petinggi ABRI membentuk Dewan Kehormatan Perwira (DKP). DKP merekomendasikan pemberhentian Prabowo Subianto Djojohadikusumo yang saat itu berpangkat Letjen dan menjabat Pangkostrad.

Lebih lanjut ditegaskan mantan menteri perhubungan era Gus Dur ini, apa yang dikatakannya bukan untuk menggiring pemilih untuk tidak memilih ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu. Tapi hanya mengingatkan, layak atau tidak layak seseorang dipilih sebagai presiden.

Menurut Agum yang juga merupakan ketua umum DPP Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (PEPABRI), organisasi PEPABRI juga menyepakati syarat seorang calon pemimpin dari TNI atau Polri yakni, memiliki kepribadian yang baik, memiliki track record bagus, leadership telah teruji, serta memiliki latar belakang keluarga yang bagus.

“Silakan mau pilih siapa, dari manapun boleh. Ini demokrasi. Tapi yang mengerti harus mengingatkan yang tidak mengerti, karena masa depan bangsa ini jadi taruhannya,” kata Agum.

Nah, masih mau pilih Prabowo ? (sumber inilah.com dikutip/kompasiana)

BACA JUGA:
Share This